Selasa, 11 Agustus 2015

Sang Putri di Balik Jamban

“Heran kenapa di Australia tidak ada tombol – tombol di toilet, kalau di Jepang banyak tombol lho,” kata temanku Nao Ishikawa, ketika kami ikut short course di Australia, ketika kutanya apa kesan pertama kali ketika tiba di negeri kangguru ini.



Sejak saat itu rasa penasaran tentang toilet di Jepang dimulai, dan di toilet Bandara Internasional Haneda, di hostel kecil di tengah Asakusa serta di gedung Sega Akihabara inilah aku menemukan jawabannya.

Pertama kali aku melihat toilet di Jepang pada Maret 2013 di Terminal Internasional Bandara Haneda. Keramik putih gading, dengan wastafel dengan warna senada terlihat begitu bersih dan elegan. Di meja wastafel, berdiri pigura kaca kecil dengan foto petugas cleaning service lengkap dengan nomor telepon yang bisa dihubungi. Masuk ke dalam kubik toilet yang lumayan besar, aku terkaget – kaget. Di dalamnya selain terdapat toilet duduk juga terdapat tempat duduk khusus untuk balita sehingga balita akan merasa nyaman ketika si ibu melakukan ‘urusan’nya.



Kemudian juga ada sebuah papan lipat, yang awalnya sama sekali tak kupahami fungsinya, semua petunjuk dalam Bahasa Jepang, tapi setelah mengamati dan mempelajarinya selama kurang lebih 15 menit, aku menyimpulkan bahwa benda misterius ini adalah papan untuk ganti baju. Kesimpulan yang aku buat sendiri, dan mungkin saja salah. Di mataku ini tetap Papan Ganti Baju. Papan lipat ini berwarna putih, yang dapat dibuka dengan menginjak ujung putihnya. Kemudian kita bisa naik ke papan ini, dan ganti baju. Menurutku, papan ini berguna sehingga celana kita tidak kotor atau basah karena bersentuhan langsung dengan lantai. Tokoh utama kubik ini adalah toilet duduk itu sendiri yang tak kalah uniknya. Ada lebih dari beberapa tombol berbeda di samping toilet ini, namun tak sempat aku pelajari. 

Di bulan Maret itu, hawa Tokyo cukup dingin, Walaupun sudah masuk musim semi, suhu menunjukkan sekitar 12-14 derajat dengan jarak antara stasiun subway dan hostel yang cukup jauh, Kami, yang terbiasa dengan hawa tropis, harus selalu menggerakkan badan supaya tetap hangat. Bang Eko lari – lari kecil sepanjang jalan, bahkan ketika menunggu untuk menyeberang jalan, dia masih lari di tempat.

Japans shoe rules: Temporary shoes, just to get us to our rooms.
http://bobarno.com/thiefhunters/japans-shoe-rules/
Sesampainya di hostel, setelah meletakkan barang, tujuan utamaku kamar kecil. Di depan ruangan berpintu kayu ini, terdapat beberapa sandal plastik yang digunakan di dalam kamar mandi. Orang Jepang memisahkan area kotor dan area bersih, dan kamar kecil dianggap area kotor serta sandal dianggap barang paling kotor. Etikanya adalah ketika tiba di rumah harus lepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah dan apabila akan menggunakan kamar mandi atau kamar kecil maka harus memakai sandal khusus kamar mandi. Jadi menggunakan sandal plastik ini di luar kamar kecil harus dihindari.

Setelah masuk aku menyadari ternyata toilet duduk di lantai satu hostelku kali ini mirip dengan yang di Haneda. Kali ini aku punya banyak waktu untuk mempelajari setiap kelebihan yang satu ini. Ketika duduk, aku sangat kaget ternyata dudukan toiletnya hangat dan bisa diatur temperaturnya. Ajaib. Hangatnya itu seperti cangkir coklat panas yang ditempelkan ke kulit. Di sebelah toilet duduk ini terdapat tombol – tombol yang mengingatkanku pada ucapan temanku, Nao.

Tombol ini memiliki beberapa fungsi yang hampir tidak mungkin ditemui di luar Jepang, seperti penghangat dudukan toilet yang luar biasa berguna di kala musim dingin tiba, pengatur suhu air, suara musik Op. 62 Nr.6Frühlingslied karya Felix Mendelssohn yang bisa diatur volumenya. Tapi yang paling unik menurutku adalah fitur Otohime atau “sound princess” yang pertama kali dikenalkan oleh perusahaan toilet keramik terbesar di Jepang yang berbasis di Jepang yaitu Toto pada tahun 1988 dengan nama “oto-hime” yang berasal dari nama seorang dewi naga dan laut di mitologi Jepang. Fitur ini diciptakan berdasarkan budaya masyarakat Jepang terutama kaum perempuan yang cenderung malu apabila bersuara di bilik toilet, sehingga seringkali mereka menyiram toilet mereka berkali – kali. Apabila kita menekan tombolnya maka akan terdengar suara aliran air selama 25 detik. Dengan cara ini, Toto mengklaim bahwa rata – rata satu orang hemat 20 liter air setiap kali menggunakan toilet. Ternyata bisa juga ya modernitas tidak menyampingkan budaya dan ekologi.

Toilet Sega


Ada satu lagi toilet yang membuatku penasaran, yaitu toilet yang berada di gedung Sega yang berdiri di tengah hiruk pikuknya distrik elektronik Akihabara. Ketika masuk ke gedung ini, aku sempat bertanya – tanya apa bedanya dengan toilet lain. Tapi sayangnya hanya laki - laki yang bisa menggunakan toilet ini.

“Bang, mungkin yang unik adanya di toilet cowok deh. Cobain dong terus difoto!.”, pintaku sepenuh hati kepada sahabat sepetualanganku ini yang kebetulan laki – laki satu – satunya.

“Tapi aku kan lagi gak kepengen,”, jawabnya lugu.

Berbekal mata berkaca – kaca ala komik, dia bersedia menjadi korban percobaan.

Ketika pintu toilet terbuka, dari luar toilet secara otomatis kepalaku dan Sita menjulur, mata tertuju ke dalam toilet. Namun belum sempat melihat apapun, tiba – tiba seorang pemuda gempal keluar dari toilet menatap aneh ke kami.

Kami pun menunggu bang Eko menjalankan tugasnya dengan imajinasi yang liar. Tak berapa lama, dia keluar dari toilet dengan muka lesu.

“Aku gagal. Pipisku dikit, jadi ceweknya gak terlalu senang.”

Eh.

Setelah mendengarkan cerita si korban aka bang Eko dan foto toilet yang diambil, aku mulai paham kenapa toilet ini dianggap menarik. Di bagian bawah toilet terdapat tanda target dan di atas toilet terdapat monitor kecil seukuran Ipad mini. Urusan kencing dengan kreatif dijadikan permainan di Sega ini dengan cara pengguna ketika melakukan ‘urusan’nya harus membidik target. Setelah selesai, monitor akan menampilkan anime dengan karakter perempuan cantik. Semakin tepat sasaran, semakin lebar senyuman sang putri.

Sabtu, 30 Mei 2015

Dia Yang Memanggilku Enthung


Banyak orang selalu menanyakan mengapa aku suka jalan – jalan, apakah aku tidak lelah. Bukan jalan – jalan yang aku sukai tapi melakukan perjalanan. Dalam perjalanan, aku merasa ditempa sebagai manusia. Melatihku dalam mengenal banyak orang, berempati, berbagi, dan merasakan, tapi yang paling penting adalah mengenal diri sendiri. Selalu bertumbuh.

Itu juga yang menjadi alasanku membuat Pikkunikku. Membantu para pemimpi mewujudkan impiannya. Saat ini bukan uang yang menjadi dasar pikkunikku, tapi hanya ingin berbagi ilmu dan mimpi. 

Sejak pendaftaran peserta sampai sehari sebelum berangkat, ada peserta yang selalu meminta pertimbanganku sampai hal – hal kecil. Terakhir tentang barang bawaan. Bakal merepotkan nih mbaknya, pikirku.

Tapi pikiranku salah, dia yang pada awal – awal perkenalan memanggilku saudara kembar karena nama kami sama, ternyata sangat ramah. Namanya Dian Arumsari alias Arum Sarilangit. Aku memanggilnya Mbak Arum Arum. Perempuan berkerudung, cantik nan modis ini adalah coach, penulis, pendamping patah hati. Si pemilik OSMO.

---

Sebelum dan ketika di Jepang banyak hal yang aku pikirkan yang membuat beban di hati, dari menit ke menit semakin berat, namun Allah SWT tak membiarkanku sendirian. Peserta pikkunikku pelan – pelan menjadi seperti keluarga.

Ada satu malam, aku ceritakan semua ketakutanku, bebanku, sedihku kepada Mbak Arum. Tak terasa air mata itu mengalir. Satu hal yang membuatku trenyuh, ketika dia berkata, “Bilang ke Ibu, nggak usah khawatir, kamu udah punya kakak di Jakarta. Yang bakal jagain kamu.”

Kakak.

Mungkin itu jawaban atas doaku saat itu. Dalam perjalanan itu aku menemukan seorang kakak.

Setelah pulang pun kami masih intens berkomunikasi. Kadang – kadang aku merasa dia lebih galak dari ibuku.

“thuuung, lagi dimana?”

“thuuung, dah maem belum?”

“thuuuung…thuuuung!!”

Dia memanggilku enthung sekarang, karena cara tidurku yang mirip enthung atau kepompong.

Selain kepada-Nya, aku curahkan segala keluh kesahku pada mbak ku ini. Di saat rasa sakit itu datang, banyak kata – katanya yang menguatkanku.

“Tulang boleh patah – patah, kakimu boleh berdarah – darah, tapi aku yakin yang namanya Arum Apriliyana tidak akan kekurangan bahan untuk membuat tongkat penyangga. Tetap berjalan ya thung, walaupun masih pelan – pelan.”

Insya Allah.

Semoga Mbakku ini tidak bosan mendengar ceritaku. Terima kasih telah menjadi pom – pom ku, suatu saat aku pasti siap menjadi pom – pom mu.


Metamorfosis kehidupanku dari seekor ulat yang buruk rupa, sekarang sedang menjadi kepompong (enthung) dan ketika waktunya tiba semoga bisa bertumbuh menjadi kupu – kupu yang indah. 


Selasa, 24 Maret 2015

Formulir Informasi Pikkunikku Dreamy Japan Trip 2015

need more info on Pikkunikku Dreamy Japan Trip 2015?? Please fill the form