Dreamy Backpacker: Malu Bertanya, Maka Tersesatlah. Kecut

18/03/12

Malu Bertanya, Maka Tersesatlah. Kecut


China, sebenarnya bukan salah satu negara yang ingin aku kunjungi. Kalau bukan karena bujuk rayu sahabatku, Niken, mungkin aku tak akan menginjakan kaki di negeri Bambu ini. Perjalanan ke China kali ini benar - benar seperti pertaruhan. Dengan dana yang sangat terbatas, aku akan berpetualang di China - Hongkong- Makau selama 7 hari. Ditambah lagi baru 3 hari menjelang keberangkatan aku baru mendapat visaku, tidak sempat membuat asuransi perjalanan. Plus yang paling edan adalah aku harus berangkat ke China sendirian dan kemampuan bahasa Mandarinku sangat amat sangat terbatas. Ini mungkin yang namanya nekad.

Singapore-Shenzhen-Guangzhou-Macau-Hongkong mungkin rute yang terlalu umum bagi backpacker. Bahkan mungkin sudah banyak teman-temanku yang datang ke sana. Tapi tak mengapa. Bagiku perjalanan lah yang penting, bukan tujuannya. Journey that matters, not the destination. Banyak orang yang menyayangkan kenapa aku tak ke Beijing, tak melihat salju. Kata mereka, belum ke China kalo belum menginjakkan kaki di Tembok Besar China. Perjalananku kali ini semoga akan membuktikan kalau orang-orang itu tak sepenuhnya besar. Pertaruhan.

Dan ketika fajar baru saja datang menyapa, aku sudah berada di angkot menuju Pasar Minggu dan langsung duduk tenang di Damri menuju Bandara. Jam 7, tepat waktu, aku sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Carrier Eiger dan ransel Joger sudah melekat di badan. Walaupun belum ada teori yang membuktikan tapi setiap  lima menit saja, aku sudah merasa memendek 1 cm. Benar-benar berat. Eiger ku dipenuhi dengan 2 space maker yang aku beli di ACE Hardware berisi jaket dan pakaian musim dingin, segala titipan Niken dan Rina mulai dari lotion 1,5 liter, obat-obatan, supermi, keripik singkong khas Temanggung, minyak wangi 6 botol. Sekedar informasi Niken dan Rina adalah sahabatku yang sekolah di China dan yang menjadi pemandukuku selama di China. Titipan mereka aku anggap sebagai timbal balik menemaniku di China. Sepadan.

Terminal 1, Changi Airport
Hampir 2 jam perjalanan, akhirnya aku menginjakkan kaki ke Changi, Singapura. Tahun lalu tepat di hari valentine, ketika liburan ke Singapura, gara - gara ketinggalan pesawat dan tak punya uang, aku "terpaksa" tidur di salah satu bangku di suatu sudut Bandara ini. Dinginnya menusuk tulang.

Kembali ke Negeri Singa, aku sangat percaya diri berada di sini, walaupun aku berpetualang sendirian. Semua orang bisa bahasa Inggris dan semua petunjuk sangat jelas di depan mata terlebih lagi aku telah dua kali menjelajahi kota ini. Gampang. Lagi pula aku hanya di Singapura hanya 7 jam. Ya. Aku hanya transit di sini sebelum melanjutkan kegilaan ke China. 

Sebelum berangkat aku sudah berencana matang bahwa aku akan menikmati segalanya yang gratis di Singapura. Jadi, aku tak punya sedolar pun di kantongku. Sama sekali. Sebagai informasi, Bandara Changi menyediakan banyak fasilitas gratis bagi penumpang transit. Dengan jeda 5 jam, pilihanku adalah heritage city tour lalu nonton film di transit area dan menikmati seluncur di dunia maya. Semuanya gratis. Dan kemudian semuanya berjalan tak sesuai rencana.

Di terminal 1 aku menghampiri meja informasi.
"Can I help you?", kata petugasnya tersenyum ramah
"yes, I want to join this tour.", kataku tersenyum bingung
"sorry, but once you pass the immigration, you are no longer eligible to join this tour.", kata petugas tersenyum kasihan.
"oh, I see.", jawabku tertunduk lesu, tersenyum kecut. KECUT. Rencana gratisanku berantakan. 

Berhubung cacing peliharaanku di dalam perut sudah demo besar-besaran. Saatnya makan siang. Pertanyaannya adalah di mana. Cuma 1 tempat yang terpikir olehku. Masakan padang di Asia Food Court di Basement Lucky Plaza. Disinilah makanan andalanku di Singapura. Tapi yang pasti tujuan pertamaku adalah Money changer. Di dompet adanya cuma Yuan Renminbi. Setelah berhitung keras, semedi, berurai air mata akhirnya aku keluarkan 2 lembar merah bergambar Mao Zedong.

Hop. Naik MRT dari Bandara Changi menuju Lucky Plaza, Orchard adalah pekerjaan gampang. Sampai di Stasiun MRT Orchard, kepercayaan diriku masih berada di langit ke tujuh. Aku keluar melalui pintu E. Setelah menyusuri lorong itu, aku terjebak di persimpangan. Kanan atau kiri. Tanpa bertanya siapapun aku putuskan ambil kanan. Kesalahan Besar. Tak tahu bagaimana ceritanya, aku sudah berada di dalam mall yang tak aku kenal dan tak tahu cara keluar. Dan tanpa bertanya siapapun, aku mencoba mencari jalan keluar. 30  menit rasanya seperti 2 jam. Akhirnya aku berada di persimpangan tadi dan ku pilih jalan yang benar. Sayangnya ketika berada di jalan Orchard, aku lupa dimana letak Lucky Plaza. KECUT. Dengan 20 kilo beban di pundak, aku hilir mudik tanpa arah. Kesimpulannya adalah tersesat. Salah satu kebiasaanku dalam berpetualang. Tuminah. Itulah wangsit yang terlintas di otakku. Ya. Si Tuminah, android kesayanganku. Berbekal sinyal wifi gratis, aku pakai aplikasi navigasiku untuk cari tempat makan masakan Padang itu. KETEMU!!!. Aku dan cacing peliharaan ku yang bersorak gembira. Sepiring nasi berlaukkan ayam gulai, telur mata sapi, paru goreng dan segelas es teh. Luar biasa.

Setelah menikmati setiap suap nasi dan tetes es teh dan sedikit bercengkerama dengan ibu-ibu pelancong dari Indonesia, aku beranjak kembali ke Bandara Changi. Sesampainya di Terminal 3, aku dengan santainya duduk-duduk menikmati suasana karena pesawatku masih 3 jam lagi. Pas check in aku tak menemukan penerbanganku di papan pengumuman. Aku salah terminal. Ternyata Tiger Airways adanya di budget terminal bukan di terminal 3. KECUT.

Lariiiiiiiiiii. Terminal-terminal di Changi dihubungkan dengan skytrain, tapi khusus budget terminal hanya dihubungkan dengan shuttle bus dari terminal 2. Ketika sampai di halte, untuk menyakinkan diriku aku bertanya pada seorang ibu disebelahku.

"sorry, is this the bus stop for  shuttle bus for budget terminal?" tanyaku sopan.
Dia cuma geleng - geleng, bingung. Dan dia mulai bicara dengan bahasa yang tak ku mengerti. Mandarin. 

Akhirnya kami berkomunikasi seadanya menggunakan bahasa Inggrisnya yang sangat minim dan bahasa Mandarinku yang sangat parah.

Besok akan kuceritakan apa rasanya makan "sate keringat" di Shenzhen dan bagaimana cara keliling China dalam 1 hari. Terima kasih sudah membaca.

2 komentar: