Bagi seseorang yang masa kecilnya di
tahun 90an sepertiku, robot kucing berwarna biru putih yang mempunyai semua alat canggih di kantong ajaib untuk memecahkan semua masalah yang dimiliki Nobita adalah idaman terbesarku. Jam 8 tepat
setiap hari Minggu, Doraemon, membuatku terus terpaku selama setengah jam.
Mulut menganga, semangat membuncah. Segalanya itu mungkin, walaupun sepertinya
mustahil tapi itu mungkin. Itulah esensi dari sebuah mimpi. Sesuatu yang
terlihat tidak teraih, tapi dengan kerja keras pasti akan tercapai.
Walaupun sekarang aku bertambah usia
dan tidak bisa dibilang muda lagi, tapi setiap aku melihat Doraemon, aku merasa
menjadi anak kecil lagi dengan imajinasi dan impian yang menjulang tinggi. Dia
menemaniku meniti jalan menuju mimpiku, maka ketika terwujud, menjadi suatu
yang wajib kurasa untuk mengunjungi tempat kelahirannya. Museum Fujico F.
Fujio.
Doraemon sendiri adalah karakter
manga yang diciptakan oleh Fujico F. Fujio pada tahun 1973. Museum yang
terletak di 2 Chome 8-1 Nagao Tama-ku, Kawasaki City, Perfektur Kanagawa
214-0023 ini dibangun atas inisiatif sang istri. Beliau ingin
mempersembahkannya untuk anak-anak di dunia yang selama ini selalu mendukung
karya suaminya. Berhubung karyanya yang sangat terkenal adalah Doraemon, museum
ini lebih sering dikenal dengan Museum Doraemon.
Sebenarnya harga tiket masuknya tidak
terlalu mahal, hanya 1000 yen untuk dewasa dan 500 yen untuk anak-anak, namun
kita tidak bisa langsung membelinya di sini. Pemesanan tiket museum ini harus
dilakukan lewat Lawson, salah satu jaringan mini market terbesar di negara matahari terbit. Hampir di
semua sudut kota besar di Jepang, Lawson gagah berdiri.
Karena takut kehabisan tiket,
setibanya di Tokyo, aku langsung menuju salah satu cabangnya di Asakusa. Museum
yang baru dibuka pada 3 September 2011 ini sangat banyak pengunjungnya, dan
untuk hari Sabtu Minggu biasanya tiket terjual habis.
Sebenarnya agak menjadi tantangan
tersendiri untuk membelinya. Karena pembeliannya menggunakan Loppi, semacam mesin penjualan tiket yang sayangnya hanya menggunakan bahasa Jepang, aku harus minta bantuan penjaga
toko. Namun, sayangnya dia, seperti mesin itu, monolingual. Dan saat-saat
inilah, kemampuan bahasa Tarzanku diuji.
"We want to buy ticket for
Doraemon Museum"
"Ehm? Doraemon", entah
kenapa wajahnya cukup bingung.
"Fujico F. Fujio desu.",
sautku
"Oh, hai"
Dia langsung membawaku ke depan mesin
pembelian tiket.
Tiket Museum |
Setengah jam lebih berkutat di depan
loppi, percakapan yang didominasi kata "Hai", "Ok",
"No", "Sorry", gerakan manggut-manggut dan geleng-geleng,
akhirnya membuahkan hasil. 3 tiket untuk aku, Sita dan Bang Eko untuk tanggal 25 Maret 2013 pukul 16.00 sudah
aman digenggaman. Perlu diketahui untuk kenyamanan pengunjung, dalam satu hari
dibagi 4 gelombang, yaitu 10.00; 12.00; 14.00;
16.00 dan diharapkan datang paling lambat setengah jam sebelum jam yang tertera
di tiket.
Sopir bus yang ceria |
30 menit sebelum pintu dibuka,
pengunjung sudah mengular panjang. Kalau diperhatikan sangat jarang orang
dewasa yang datang, kecuali menemani anaknya. Dari satu antrian ini, aku merasa
kami bertiga terlihat begitu menonjol. Akhirnya, setelah menunggu beberapa
lama, kami masuk museum impian ini.
Lagi-lagi demi kenyamanan, setiap
pengunjung dibekali Pemandu Audio dan earphone. Ada 2 bahasa tersedia, Inggris
dan Jepang. Kalau berharap versi ada bahasa Indonesia, siap-siap lah kecewa.
Tour Museum ini dimulai dengan sebuah ruangan yang berisi karya-karya Fujico F.
Fujio. Lembar - lembar karyanya dipajang di kotak kaca yang dinomori. Untuk
informasi tentang karya tersebut, kita harus menekan tombol angka di Pemandu
Audio sesuai nomor yang tertera. Sayangnya ada beberapa karya yang tidak ada
informasinya. Walaupun sebagian besar adalah tentang Doraemon, namun karya yang
lain seperti Perman, Mojacko, Ume Boshi Denka dan Esper Mami juga ada.
Masih di lantai yang sama, setelah
ruang itu terdapat lorong yang membawa kita masuk ke kehidupan sang mangaka yang bernama asli Fujimoto Hiroshi ini. Di
sebelah kiri terdapat kamera yang biasa digunakan oleh Fujico F. Fujio dan di
sebelah kanan terdapat replika ruang kerjanya yang dibuat sama persis aslinya.
Terharu. Di sinilah dia melahirkan karya yang menginspirasi ribuan bahkan
jutaan anak-anak yang mengidamkan Doraemon. Sebuah karya yang ku yakin tak akan
lekang dimakan waktu.
Setelah lorong itu, sampailah kami ke
area hiburan yang meliputi permainan-permainan bertemakan Doraemon dan
teman-temannya. Walaupun ingin sekali mencobanya, aku tidak berminat bersaing
dengan anak-anak TK yang terlihat antusias memainkannya. Aku pilih manga reading room saja.
Setelah berlagak baca manga Doraemon, yang sedikit aku tak mengerti karena dalam
bahasa Jepang, hanya demi sebuah keeksisan dalam foto, aku beranjak ke theater.
Di sini kita bisa menyaksikan film yang hanya dapat dilihat di museum ini.
Setelah petugas mengatur agar anak-anak duduk paling depan, film dimulai. Jujur
saja, karena tidak ada terjemahannya aku kurang paham dengan filmnya. Bahkan
sampai detik ini, aku tidak ingat jalan ceritanya.
Di lantai paling bawah terdapat
tempat yang paling diminati. Toko souvenir. Segala benda yang berkaitan dengan
Doraemon ada di sini. Mulai dari map yang hanya 300 yen sampai patung Doraemon
yang harganya lebih dari 10.000 yen. Penggila robot kucing yang dinobatkan
sebagai duta besar anime oleh pemerintah Jepang pada Maret 2008 ini sebaiknya
membeli pernak - perniknya di sini. Karena ketika aku obok - obok 2 pusat otaku
di Jepang, Akihabara Tokyo dan Den Den Town Osaka, nyaris aku tidak dapat
menemukan Doraemon.
Ketika saatnya makan tiba, kami
beranjak ke lantai 3 di mana kafe berada. Tapi apalah daya, karena sudah
terlalu sore kafe sudah tutup dan kami diarahkan untuk makan di tempat makan di
sebelahnya yang lebih mirip dengan restoran cepat saji. Hanya saja menunya
bukan ayam goreng melainkan Dorayaki, makanan favorit Doraemon, dan Anki Pan,
roti untuk menghafal. Harganya memang tidak terlalu mahal namun sungguh tidak
mengenyangkan.
Walaupun begitu, kami masih
bersemangat berfoto-foto di taman di depan restoran ini. Dinosaurus, pintu
ajaib, dan beton bertumpuk tiga di taman rasanya seperti berada dalam dunia
Doraemon. Di sinilah pengunjung paling puas mengambil gambar karena di ruang
pamer tidak diperkenankan.
Dengan bus yang sama, aku mengucap
Sayounara dan membawa semangat Doraemon langsung dari kampung halamannya.
Catatan perjalananku lainnya tentang Jepang :
Rincian Biaya 12 Hari Pertualanganku Di Jepang
Tokyo Dulu Dan Kini Melebur Di Asakusa
Cantiknya si Merah Jambu Ueno-Koen
Klik. Dan Tokyo Tower pun Padam.
Bermain Siasat Dengan Transportasi di Tokyo
wah..kapan yah bisa kesini..trus nyicip-in dorayakinya ^^, tapi kalau ke jepang sepertinya saya akan mampir dulu ke Ghibli Museum sebelum kesini ^^
BalasHapusjangan lupa makan Anki Pan juga ya :),
HapusBtw next trip saya ke Jepang, sepertinya saya akan menengok Ghibli Museum di Mitaka. ^_^
Waaaauu :')
BalasHapusTunggu aku doraemoon... aku akan mengunjungimu.... がんばろ
Ada rencana ke jepang lagi mba? n_n
BalasHapusSemua berita yang ada di website anda sangat menarik perhatian untuk di simak, salam sehat. . . !! Semoga beritanya dapat bermanfaat! share ya gan, thanks nih!!
BalasHapusmakasih banget semua tulisan di blog ini membantu sekali lho..
BalasHapustapi ada yang mau ditanya ni berarti kalau saya mau dari bandara langsung ke fujiko f fujio tidak bisa ya? harus beli tiket hari sebelumnya?
thank u
maaf baru balas,
HapusBisa beli di Lawson yang ada di Bandara. Beli di hari yang sama tidak dianjurkan karena biasanya soldout.